Infrastuktur Buruk, Harga Komoditas Pertanian Di Desa Sekoci Ditentukan Tengkulak

08 Oktober 2017  |  Ekonomi  |  81 pembaca  |  oleh Susilo


SumutDaily | Langkat ~ Para petani jeruk di Dusun Pantai Pulo, Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Langkat, Sumatera Utara, tak bisa berbuat banyak. Walaupun sudah berusaha maksimal untuk meningkatkan hasil panen, namun hidup mereka masih jauh dari kesejahteraan. Pasalnya, pemasaran mereka tergantung kepada para tengkulak, sehingga mereka tidak bisa menentukan sendiri harga jual jeruk hasil panen.

Itulah keluhan para petani jeruk setempat kepada anggota DPRD Sumut, Muhri Fauzi Hafiz ketika melakukan kunjungan ke Dusun Pantai Pulo, Desa Sekoci, Langkat dalam rangka reses, Kamis (5/10/2017) lalu.

Kepada anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumut itu, para petani mengaku, potensi tanaman jeruk cukup besar di Desa Sekoci. Namun banyak faktor yang membuat mereka tak bisa merasakan hasil maksimal panennya. Salah satu sebabnya adalah kendala di pemasaran. Lokasi desa yang terpencil dan infrastruktur jalan yang masih seadanya, membuat mereka kesulitan untuk memasarkan sendiri hasil panen. Akibatnya, pemasaran seluruh hasil pertanian bergantung kepada para tengkulak.

"Permasalahan kami dalam bertanam jeruk adalah pemasaran. Kami tidak bisa berbuat banyak, karena sudah ada permainan tengkulak. Kami tidak bisa menentukan harga sendiri. Kerap kali kami dirugikan dengan harga yang tidak berpihak kepada petani," kata Sukiran, Ketua Kelompok Tani Desa Sekoci.

Keluhan sama juga disampaikan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sekoci, Sutris. Dia juga mengakui, potensi pertanian dan perkebunan di Desa Sekoci cukup besar. namun persoalan jaringan pemasaran yang menjadi kendala. Akibatnya, petani bergantung kepada tengkulak.

“Saya sudah 10 tahun menjadi petugas PPL di Desa Sekoci, namun tidak ada perubahan yang signifikan terhadap para petani jeruk. Berbagai usulan sudah dilayangkan ke dinas terkait namun hingga saat ini belum terealisasi,” kata Sutris.

Sedangkan Ketua Karang Taruna Desa Sekoci, Bambang mengaku, sudah lama mengusulkan perbaikan jembatan gantung di Desa Sekoci. Lagi-lagi usulan itu tak pernah direalisasikan.

“Sudah sejak lama kami mengusulkan perbaikan jembatan gantung agar bisa dilewati mobil, sehingga transportasi antar dusun di Desa Sekoci bisa berjalan dengan baik. Bahkan sudah sejak 10 tahun lalu, usulan itu kami sampaikan melalui Musrenbangdes dan dijanjikan menjadi prioritas utama, namun hingga saat ini belum terealisasi,” tegas Bambang.

Setelah mendengar keluhan warga Desa Sekoci, Muhri Fauzi Hafiz berjanji akan menjadikannya masukan dan berjanji akan memasukkan dan memperjuangkan keinginan warga agar bisa dimasukkan dalam Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut. 

“Saya akan sampaikan hasil reses ini ke Pemerintah Propinsi Sumatera Utara melalui Gubernur. Namun terkait dengan usulan tentang peningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya jeruk, mohon saya diberikan proposalnya sehingga ada bahan buat saya untuk menyampaikan ke lembaga terkait di level Propinsi Sumut,”  jelas Fauzi. (sdc)