Sumut Today

Dinas PU Angkut 60 Truk Lumpur dari Sungai Selayang

SumutDaily | Medan ~ Pengorekan Sungai Selayang terus dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan, Senin (6/8/2018). Sebab, Sungai Selayang yang merupakan aliran dari Sungai Sikambing mengalami pendangkalan dan penyempitan. Kondisi itulah yang membuat Sungai Sikambing mengalami back water pada saat hujan deras turun sehingga meluap dan menggenangi jalan maupun rumah warga. Dalam dua bulan belakangan ini, sudah dua kali Sungai Sikambing meluap menyusul cuaca ekstrim menerpa Kota Medan.

Sebelumnya, Kamis (2/8/2018), Dinas PU telah melakukan pengorekan Sungai Selayang dipimpin langsung Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi. Kala itu pengorekan dipusatkan di Jalan Sei Belutu Medan, ada dua wilayah yang dilintasi Sungai Selayang yakni Kelurahan PB Selayang 1, Kecamatan Medan Selayang dan Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Pasca dilakukan pengorekan, titik-titik yang mengalami pendangkalan dan penyempitan mulai teratasi.

Guna memaksimalkan pengorekan dan memberikan dampak positif dalam meminimalisir banjir, Dinas PU terus melakukan pengerukan di Jalan Sei Belutu, ada tiga lokasi pengerukan yang dilakukan. Selain itu pengerukan juga dilakukan di Jalan Sei Asahan dan Jalan Pertambangan. Sebab alur sungai yang melintasi kedua kawasan itu juga mengalami penyempitan dan pendangkalan sehingga berimbas dengan banjir yang terjadi di kawasan Ring Road, Jalan Gatot Subroto/Kapten Muslim serta Jalan Dr Mansyur.

Di samping mengerahkan 200 pekerja yang berasal dari 4 Unit Pelaksana Teknis (UPT), Kadis PU Kota Medan Khairul Syahnan juga menurunkan sejumlah alat berat seperti excavator mini, skidloader, excavator long arm serta 15 truk yang dingunakan untuk mengangkut seluruh lumpur yang menyebabkan pendangkalan. “Saya ingin hasil pengorekan yang dilakukan maksimal,” kata Syahnan.

Pengorekan dilakukan mulai sejak pagi, aliran Sungai Selayang yang melintasi sebelah Masjid Al Ishlah di Jalan Sei Belutu menjadi fokus pengorekan karena penyempitan dan pendangkalan yang terjadi cukup parah. Selain menurunkan excavator mini dalam sungai, pengerukan juga menggunakan excavator long arm. Kedua alat berat itu sangat efektif dalam mengatasi pendangkalan dan penyempitan.

Hanya saja untuk di bawah jembatan, pengorekan terpaksa dilakukan secara manual. Penyebabnya, kedua alat berat milik Dinas PU itu tidak mampu menjangkau lumpur bercampur sampah di bawah jembatan. Untuk mengoreknya, para pekerja pun melakukannya dengan manual menggunakan cangkul dan penggaruk.

Proses pengorekan Sungai Selayang mendapat apresiasi penuh warga sekitar. Pasalnya, merekalah selama ini yang menjadi korban setiap kali air sungai meluap. Karena itu mereka sangat mendukung dan mengucapkan terima kasih atas pengorekan yang dilakukan. “Semoga pengorekan yang dilakukan ini mampu mengatasi banjir yang selalu terjadi setiap hujan deras turun,” ungkap salah seorang pria paro baya mewakili warga sekitar.

Selain tiga titik di Jalan Sei Belutu, Syahnan didampingi Plt Kabid Drainase Dinas PU Edi Zalman pun mengungkapkan, pengorekan juga dilakukan di alur Sungai Selayang yang melintasi Jalan Sei Asahan dan Jalan Pertambangan. Meski kondisi medan cukup sulit namun tidak menjadi halangan bagi petugas Dinas PU melakukan normalisasi. Para pekerja bahu membahu mengatasi penyempitan dan pendangkalan yang terjadi di sejumlah titik.

“Alhamdulillah normalisasi yang kita lakukan di Sungai Selayang berjalan dengan lancar. Kendala yang dihadapi hanya di bawah jembatan Jalan Sei Belutu, sebab alat berat kita tidak bisa menjangkau lumpur dan sampah yang mengendap di bawah jembatan. Itu sebabnya pengorekan dilakukan manual. Walaupun manual namun hasilnya cukup baik, sampah dan lumpur berhasil kita bersihkan,” jelas Syahnan.

Seluruh lumpur maupun sampah hasil pengorekan selanjutnya diangkut menggunakan truk. Dikatakan Syahnan, cukup banyak sekali lumpur dan sampah yang diangkut dalam normalisasi tersebut. “Sudah banyak lumpur dan sampah yang kita angkut dari Sungai Selayang. Dari yang kita hitung, ada 60 truk yang membawa lumpur bercampur sampah. Normalisasi akan terus kita lakukan, terutama titik-titik yang telah mengalami penyempitan dan pendangkalan,” jelasnya.

Di samping melakukan normalisasi, Syahnan pun mengharapkan peran serta masyarakat dalam upaya mengatasi banjir sangat dibutuhkan. Ditegaskan Syahnan, normalisasi yang dilakukan akan sia-sia jika warga tidak mendukung penuh. “Dukungan dapat dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama dalam sungai maupun parit. Jadi mulai saat ini, mari kita bersama menjaga kebersihan sungai,” harapnya. (sus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *