Tak Berkategori

Danramil 05/Payung Bekali Guru dan Siswa SMAN Tiganderket Materi 4 Pilar Berbangsa

SumutDaily | Berastagi ~ Danramil 05/Payung Kapten Arh Erlaba Perangin-angin mewakili Dandim 0205/TK Inf Taufik Rizal SE memberikan materi wawasan kebangsaan meliputi empat pilar berbangsa dan bernegara di lapangan SMA Negeri 1 Tiga Nderket, Kecamatan Tiga Nderket, Kabupaten Tanah Karo, Senin (15/1/2018). Kedatangan Danramil disambut kepala Sekolah josua Surbakti SPd dan para guru.

Dalam amanatnya Kapten Arh Erlaba Perangin-angin mengatakan, empat pilar berbangsa dan bernegara adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Inilah empat pila penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahkan beberapa partai politik dan organisasi kemasyarakatan telah bersepakat dan bertekad untuk berpegang teguh serta mempertahankan empat pilar kehidupan bangsa tersebut,” ujar Danramil.

Pancasila, ujar Danramil, merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. “Tanpa pandangan hidup, maka suatu bangsa akan terus terombang-ambing dalam menghadapi persoalan dalam masyarakatnya maupun persoalan besar umat manusia dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa di dunia,” ujar Danramil.

Dengan pandangan hidup yang jelas, maka suatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan masalah politik, ekonomi, sosial budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman kepada pandangan hidup itu pula suatu bangsa akan membangun dirinya,” kata Danramil.

Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber pendorong dan sumber cita-cita perjuangan serta tekad bangsa Indonesia. Karena di dalam pembukaan UUD 1045 itu telah dirumuskan secara jelas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bebas, merdeka, sesuai dengan hak-haknya untuk kemudian membentuk negara yang merdeka, bersatu, berdaulat yang di dalamnya akan diwujudkan suatu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila di tengah-tengah pergaulan negara-negara di dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Bentuk negara kesatuan merupakan pilihan final bangsa. Bentuk Negara Kesatuan Republi Indonesia adalah berdasarkan berbagai pertimbangan dan hasil pembahasan yang cukup mendalam. Namun dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia pernah juga menerapkan bentuk negara federal sebagai akibat atau konsekuensi hasil konferensi meja bundar di Negeri Belanda pada tahun 1949. Namun penerapan pemerintah federal ini hanya berlangsung sekitar 7 bulan untuk kemudian kembali menjadi bentuk negara kesatuan,” ujar Danramil.

Sedangkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu juga. “Semboyan ini yang kemudian dijadikan prinsip dalam kehidupan pemerintahan kerajaan Majapahit itu untuk mengantisipasi adanya keaneka-ragaman agama yang dipeluk oleh rakyat Majapahit pada waktu itu. Meskipun mereka berbeda agama tetapi mereka tetap satu dalam pengabdian. Bhinneka Tunggal Ika ditetapkan sebagai semboyan yang terdapat dalam Lambang Negara Republik Indonesia, “Garuda Pancasila.” Kata bhinna ika, kemudian dirangkai menjadi satu kata “bhinneka”.

Pada perubahan UUD 1945 yang kedua, Bhinneka Tunggal Ika dikukuhkan sebagai semboyan resmi yang terdapat dalam Lambang Negara, dan tercantum dalam pasal 36a UUD 1945.

Pelaksanaan pemberian materi wawasan kebangsaan empat pilar berbangsa dan bernegara di lapangan SMA Negeri Tiga Nderket berlangsung aman dan kepala sekolah Jasua surbakti Spd dan guru guru lainnya mengucapkan banyak terimakasih kepada Danramil 05/Payung Kapten Arh Erlaba Perangin-angin. (penrem023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *