Peristiwa

Serka SP Hasibuan Bertahun-tahun Jaga Portal Zona Merah Sinabung

SumutDaily | Karo ~ Lebih sepuluh tahun Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, berada pada level IV atau awas dan terus menyemburkan awan panas. Sejauh ini tak ada tanda-tanda kapan gunung tertinggi di Sumatera Utara ini akan berhenti erupsi.

Awan tebal yang panasnya mencapai 600 derajat celsius itu tak hanya meluluhlantakkan tanaman para petani. Tapi juga mengancam jiwa warga setempat.

Buktinya 1 Februari 2014 lalu, 15 orang tewas tersapu awan yang memiliki kecepatan 150 km/jam itu. Untuk itu masyarakat diingatkan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak dan dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor utara-timur Gunung Sinabung. Masyarakat yang bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diingatkan untuk waspada. Daerah-daerah itu disebut sebagai zona merah. Tak siapapun boleh masuk ke dalam zona berbahaya itu.

Portal pun dipasang sebagai penanda agar warga tidak melintas dan memasuki zona berbahaya itu. Tapi terkadang masih ada saja warga dan wisatawan yang berani menerobos portal.

Untuk itulah ditempatkan petugas penjaga portal. Selain bertugas mencegah warga masuk ke zona merah, petugas jaga juga kerap memberikan sosialisasi kepada warga tentang bahaya awan panas.

Salah seorang yang setia menjalankan tugas itu adalah Serka SP Hasibuan. Personel Koramil 05/Langga Payung Kodim 0205/TK itu sudah bertahun-tahun setia menjalankan tugasnya menjaga portal di Simpang Bintun.

Setiap saat ia terus mengawasi zona merah. Jika tak menjaga portal, maka Serka SP Hasibuan melakukan patroli. Terkadang dia menemukan warga setempat yang melakukan kegiatan bercocok tanam atau wisatawan lokal yang nekat menerobos portal dan masuk ke zona merah.

Seperti yang terjadi, Jumat (5/1/2017). Menurut Serka SP Hasibuan erupsi Sinabung memuntahkan awan panas yang meluncur hingga 2.000 meter dari puncak mengarah ke tenggara. Namun, ternyata masih banyak warga yang memaksakan diri memasuki zona merah.

“Tugas kamilah untuk mengingatkan mereka. Kami terus meningkatkan patrolis di sejumlah pintu masuk zona merah,” ujar Hasibuan.

Saat patroli, lanjut Hasibuan, mereka kerap menemukan warga yang nekat menerobos zona merah untuk melihat kebun. “Kami bertanggungjawab di pos zona merah hanya bisa melarang dan memberikan sosialisasi agar masyarakat menjauhi rasius 0 km sampai 7 km,” jelasnya.

Meski nyawa taruhannya, namun Hasibuan tak pernah bosan dengan tugas itu. Bertahun-tahun menjalani tugas sebagai penjaga portal, bagi Hasibuan, merupakan tugas yang harus diemban dengan tanggungjawab penuh. “Itu semua kami lakukan untuk masyarakat, agar tidak ada lagi korban erupsi Gunung Sinabung,” katanya lagi.(rel/penrem023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *