Peristiwa

Soal SIM Palsu, Poldasu Sesalkan Satlantas Jual SIM Bekas ke Pengepul

SumutDaily | Medan ~ Polda Sumut menyesalkan keputusan yang diambil Satlantas Polrestabes Medan menjual surat izin mengemudi (SIM) bekas ke pengepul. Ribuan SIM bekas yang disita Polda Sumut dari sebuah rumah kontrakan di Jalan Setia Luhur, Gang Arjuna, Lingkungan VI, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Helvetia, Kamis (28/9/2017) malam kemarin, didapat para pelaku dengan membelinya dari pengepul.

Dari informasi yang dihimpun, Satlantas Polrestabes Medan menjual SIM yang telah habis masa berlakunya itu kepada pengepul CV Rezeki Bersama di Marelan. Dari temuan di rumah kontrakan tersebut, sebagian SIM dari pengepul ini ditemukan tidak layak pakai, namun sebagian lagi dalam kondisi utuh.

"Jadi mereka bisa dapat banyak. Nah, SIM, bekas inilah yang mereka sortir. Harusnya SIM ini digunting supaya tidak bisa dipakai lagi. Tapi kenapa masih ada yang dalam kondisi bagus? Inilah yang akan kita usut," kata Direktur Ditreskrimum Polda Sumut, Kombes Nurfallah, Jumat (29/9/2017).

Di dalam rumah kontrakan tersebut, polisi mengamankan 3 pelaku, yakni Herman Pohan (34) dan Irwansyah (33), keduanya berperan sebagai pencetak SIM palsu. Lalu, anggota Polda Sumut yang bertugas di Yanma, Bripka Ridha Fahami (35), berperan sebagai pencari pemesan SIM.

Untuk diketahui, Herman sendiri pernah menjadi pekerja harian lepas di Satlantas Polrestabes Medan tahun 2016 lalu. Ia juga banyak mengetahui tentang pembuatan SIM, bahkan Herman diikutkan ketika menjual SIM bekas ke CV Rezeki Bersama di Marelan. Diduga, Herman sudah merencanakan untuk membuat pabrik pembuatan SIM palsu setelah mengetahui adanya pengepul SIM bekas dalam jumlah yang besar. 

"Jadi dulu, Herman ini phl (pekerja harian lepas) di Satlantas. Dari Satlantas ke botot, pelaku ini ikut. Makanya dia tahu, SIM bekas ini dibuang di situ. Kemudian dia belajar dari temannya yang masih kita buron untuk membuat SIM palsu," ucap Nurfallah.

Saat melakukan penggerebekan, dua pelaku inisial H dan I tidak berada di tempat. Nurfalah menyebut, kedua pelaku saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan berjanji akan memburunya karena dianggap terlibat dalam kasus penerbitan SIM palsu di Medan. "Tersangka H dan I sudah kita tetapkan masuk DPO. H ini ahlinya bikin SIM palsu. Kadang bikinnya di rumah ini, kadang di tempat lain," ujarnya.

Ia menjelaskan, bisnis pembuatan SIM palsu yang sudah berjalan selama empat bulan dengan keuntungan Rp900 juta lebih didasari karena peminat yang cukup tinggi. Sebab, selain dibekingi oknum polisi, banyak masyarakat yang tidak ingin direpotkan saat pembuatan SIM.

"Orang kan pengen cepat saja. Apalagi orang berduit. Malas nunggu lama-lama. Kalau bisa cepat dan bayar, ngapain nunggu antrean, kan gitu pola pikirnya," terang Nurfallah.

Belum lagi, ketiga pelaku menetapkan tatif bervariatif untuk harga selembar SIM. Selembar SIM C misalnya dijual senilai Rp450 ribu, SIM A Rp500 ribu dan SIM B1 Rp600 ribu dan SIM B2 Rp650 ribu. 

Dan oknum polisi bernama Ridha Fahmi mendapat jatah Rp 50 ribu perlembar SIM yang terjual. "Mereka mencari orang-orang yang butuh SIM. Alasannya karena bikinnya nembak, jadi pesanannya per sepuluh lembar," timpal Kasubdit III/Jatanras Ditreskrimum Poldasu AKBP Faisal Napitupulu.

Belum lagi, kata Nurfallah, tidak semua polisi lalu lintas di jalanan bisa membedakan mana SIM asli mana yang palsu. Karena SIM palsu yang dicetak para tersangka tersebut tampak seperti asli. Sulit membedakannya. 

Ketiga tersangka, sambung Nurfallah, akan dikenakan pasal 263 KUHP terkait pemalsuan dokumen negara dan penggunaan surat-surat palsu. Sementara pembelinya juga bisa dikenakan pasal 266 karena menggunakan dokumen palsu atau surat palsu. "Namun karena korbannya kooperatif dan dia adalah korban, jadi tidak kita kenakan pasal," pungkas Nurfallah. (sdc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *