Pendidikan

Prajurit TNI Ini Bertaruh Nyawa, Demi Anak Sekolah

SumutDaily | Kendari ~ Sebagai seorang petugas Bintara Pembina Desa (Babinsa) Serka Darwis memiliki tanggungjawab di daerah binaannya. Tanggung jawab itu ia pikul penuh, meski nyawa taruhannya.

Tanpa peduli dengan keselamatannya, setiap hari Serka Darwis menyerangkan anak sekolah menggunakan gondola. Aksi ini sebenarnya cukup berbahaya. Namun demi tanggungjawabnya sebagai seorang prajurit, ia tak memperhitungkan bahaya yang dihadapinya.

"Kalau saya takut, siapa yang akan membantu warga," kata Darwis.

Serka Darwis adalah seorang Babinsa yang bertugas di Desa Maroko, Kecamatan Rante Angin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Hampir setiap hari, dia harus menantang maut demi membantu siswa dan warga setempat menyeberangi Sungai Rante Angin yang terletak di Desa Maroko.

"Jika cuaca sedang ekstrem, maka permukaan air sungai akan naik hingga 4 meter. Jadi jika kita seberangi sungai, kaki bisa mencapai air sungai, belum lagi arus sungai yang desar memang sangat berbahaya," katanya.

Aksi nekat Serka Darwis ini kemudian dimasukkan ke media sosial Instagram milik Kodam Hasanuddin dan menjadi viral. 

Melihat foto aksi Serka Darwis yang viral di Instagram milik Kodam Hasanuddin, memang bahaya betul. Dari foto kelihatan kalau Serka Darwis bergantung pada kekuatan tali dan gondola yang dinaiki seperti boncengan.

Foto yang viral itu saat Serka Darwis membawa anak sekolah. Ada satu anak yang memeluk punggung Serka Darwis erat-erat karena takut jatuh. Mirisnya, ini bukan permainan outbound, melainkan urusan mereka sehari-hari.

Menghadapi hal tersebut, sebagai manusia biasa Serka Darwis juga merasa takut dan khawatir. Namun semua itu ia lawan demi tugas dan tanggung jawab. Ia sadar sebagai seorang Babinsa ia memiliki tanggung jawab penuh untuk membantu warga setempat menghadapi permasalahan yang ada, apalagi anak-anak yang berjuang untuk sekolah.

"Kalau saya juga takut, maka siapa yang akan bantu warga. Jika saya takut maka aktivitas tidak akan berlangsung," ujarnya.

Foto tentang dirinya saat membantu siswa menyeberangi Sungai Rante Angin memang sudah menjadi viral. Ia bahkan tidak menyangka jika apa yang dilakukannya tersebut akan diketahui oleh dunia luar, mengingat tempatnya bertugas yakni Desa Maroko, dapat dikatakan sebagai daerah yang terisolir. Ia juga menuturkan pada tahun 2016 lalu, warga sempat merasa takut karena bahan material berupa semen yang akan disebrangkan jatuh ke dalam sungai.

"Tahun 2016 itu, warga memuat semen di atas tali yang sudah diikatkan papan karena hendak membangun Mushola di Desa Maroko, namun mungkin karena bebannya, di tengah jalan papannya jatuh, sehingga semennya juga ikut jatuh. Setelah itu ada lagi kejadian sepeda motor yang akan disebrangkan namun talinya putus di tengah jalan," tuturnya. 

Namun dua kejadian tersebut tidak membunuh semangatnya untuk terus membantu warga. "Justru karena ada musibah itu, saya semakin bertekad untuk terus mendampingi warga agar bisa selamat," tukasnya. 

Sungai Rante Angin selebar 60 meter bisa diseberangi dengan gondola dalam raktu 3 sampai 5 menit. Darwis bertugas di Desa Maroko, Desa Landowia dan Desa Rante Baru di Kelurahan Rante Angin. Darwis mengatakan Dusun IV di Desa Maroko sangat terisolir.

Warga setempat membuat tali penyeberangan yang diikat ke akar pohon di Desa Tino Kari ke pohon kelapa di Desa Maroko. Tali dipasang katrol dan dihubungkan dengan gondola berupa papan ukuran 25 cm x 100 cm. Warga terpaksa menggunakan jembatan darurat karena tidak ada jembatan penyeberangan yang bisa digunakan. 

"Ada jembatan yang berjarak kurang lebih 1 KM, tetapi itu merupakan jembatan trans sulawesi yang menghubungkan antara Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Selatan (Sulsel)," katanya. 

Serka Darwis tinggal dan menetap di Desa Landowia yang berjalak sekitar 3 km dari Desa Maroko. Desa Maroko biasa ia tempuh dalam kurun waktu 10 menit. 

Tiga prinsip utama yang dipegangnya dalam menjalankan tugasnya yakni tulus, ikhlas dan bertanggung jawab. Sehingga seberat apapun tugas yang diberikan kepadanya, ia tidak pernah merasa terbebani, melainkan ikhlas melakukan semuanya. Pria yang sudah memasuki usia 48 tahun ini pun setiap hari mengabdikan dirinya di empat tempat berbeda yang sudah menjadi wilayah tugasnya.

"Saya ditempatkan di tiga desa dan satu kelurahan, jika pagi hari sekitar pukul 05.30 WITA, saya sudah menuju Desa Maroko untuk membantu anak-anak sekolah menyebrangi sungai karena letak SD, SMP dan SMA berada di Desa Tino Kari," katanya.

Tali penyeberangan darurat yang digunakan warga setempat itu juga tidak bisa memuat banyak. Untuk orang dewasa hanya bisa memuat dua orang, sementara jika Darwis membantu anak SD, maka ia bisa membawa tiga anak sekolah. 

"Bebannya itu maksimal kurang lebih 120 kg, jadi tidak bisa banyak. Maklum saja kan papannya satu meter dengan lebar 25 cm," pungkasnya. 

Ia pun berharap agar apa yang dilakukakannya tersebut bisa bermanfaat bagi warga, khususnya bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga, anak-anak di Desa Maroko Dusun IV bisa terus melanjutkan pendidikannya meskipun terisolir.

Atas aksi nekatnya, Serka Darwis diganjar piagam penghargaan dari Danrem 143 HO, Kolonel Inf Andi Perdana Kahar, SH. (sdc/tik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *