Ekonomi

Harga Anjlok, Petani Karet Beralih Menjadi Buruh Bangunan

SumutDaily | Tapanuli Tengah ~ Turunnya harga getah dari Rp8.000 perkilo gramnya menjadi Rp5.000, membuat para petani dan penderes di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Barus Utara, Tapanuli Tengah enggan menyadap karet mereka. Agar bisa tetap makan, para petani terpaksa beralih menjadi buruh bangunan.

Saat ini sejumlah warga banyak beralih profesi sebagai buruh bangunan di proyek dana desa. Hal itu Dikatakan Maruba Simanjuntak, (30), salah seorang penderes di Dusun Solok, Desa Hutaginjang, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (8/8/2017).

Maruba yang seharusnya bekerja sebagai penderes karet itu mengaku tidak dapat menderes karet, karena rendahnya harga karet saat ini. 

"Saat ini sudah banyak para penderes yang sudah alih profesi jadi kuli bangunan, itu karena harga getah tidak stabil. Akhirnya petani dan penderes memilih bekerja sebagai buruh bangunan daripada menderes karet yang harganya sangat rendah di tingkat petani,” keluhnya. 

Dijelaskan Maruba, kondisi harga karet yang terus menerus hingga di kisaran Rp5.000 perkilo gramnya di tingkat petani, telah membuat mereka alih profesi menjadi kuli  bangunan. 

“Harga karet yang dibeli oleh toke dari kami petani hanya Rp5.000 perkilo gramnya. Kalau kita kerja menderes satu harian, paling banyak dapat 10 kg. Untuk ukuran kami ini tidak memadai penghasilan Rp50 ribu/hari, dan tidak sebanding lagi dengan gaji buruh bangunan. Karena gaji buruh bangunan yang bekerja di proyek dana desa sekarang Rp80 ribu sehari. Hal itulah yang mendasari kami beralih profesi,” beber Maruba. 

Anjloknya harga karet tidak hanya di wilayah Desa Huta Ginjang, di Desa Parik Sinomba kondisinya serupa. Menurut mereka, kondisi stabil jika harga getah di kisaran Rp10.000/kg nya.

"Saat ini harga ikan basah saja satu kilo gram Rp 35.000, harga beras satu sak isi 20 liter Rp 150.000. Mungkin sudah bisa dibanyangkan bagaimana kondisi kami saat ini dengan harga karet yang sangat rendah itu. Kami berharap pemerintah dapat mengontrol  harga getah, supaya dapat normal kembali,” harap para petani karet. (sdc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *