Ragam

Kota Medan Kehilangan Identitas

Sumutdaily | Medan ~ Kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) semakin hari semakin kehilangan identitasnya. Pertandanya, bangunan-bangunan khas Kota Medan mulai hilang. Ada yang dirobohkan, ada pula yang diganti dengan bangunan baru yang dibilang lebih modern.

Penilaian ini datangnya dari Penggagas Gerakan Bangga Medan, Abdullah Rasyid kepada kru koran ini, Sabtu (22/7) sore.

"Dua hari lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan ‘pulang’ ke Medan. Aktivitas rutin selain tugas bisnis, tentu kembali keliling Medan menikmati wisata kuliner yang tidak boleh ditinggalkan, karena di Medan cuma ada 2 jenis makanan. Pertama, enak, kedua enak kali. 

Ada yang cukup memperihatinkan ketika berkeliling Kota Medan. Kami mendapati satu persatu bangunan dan situs khas Kota Medan mulai dihilangkan, dirobohkan, diganti atau bahkan dihancurkan," katanya.

Dia menjelaskan, gedung-gedung kuno di seputaran Kesawan, mulai berganti rumah dan toko alias ruko. Gedung Balaikota yang terlihat kental arsitektur eropa dan menjadi kebanggaan Kota Medan, sekarang hanya sekadar menjadi Fasad Hotel Aston. Kemudian, Vila Kembar peninggalan Belanda di Jalan Pangeran Diponegro pun sudah hilang dan menjelma menjadi Hotel Adimulia. Serta yang lebih memprihatinkan, di dekat bangunan khas Kota Medan yang dulu dikenal sebagai Titi Gantung, berdiri megah sebuah vihara.

Ditegaskannya, dibangunnya gedung modern sebagai bukti kehilangan identitas, apakah mall atau hotel berbintang. Medan, imbuhnya, memiliki kenangan indah mengenai ruang terbuka hijau. 

"Di kota ini, hingga pertengahan tahun 1990-an masih mudah menemukan ruang terbuka hijau. Taman-taman kota masih menguasai areal perkotaan, sebelum akhirnya hari ini (sekarang) taman-taman itu berganti dengan bangunan. Bahkan, Lapangan Merdeka salah satu ruang publik yang tersisa pun kini disewakan dan digunakan untuk tempat usaha. Kesannya pemerintah memang senang merobohkan dan mengganti dengan yang baru," pungkasnya.

Dari fakta-fakta ini, Abdullah Rasyid yang juga Sekretaris Nasional Boemi Poetera, secara blak-blakan menyebut, jiwa Kota Medan sudah hilang. Yang tinggal sekarang adalah jiwa-jiwa yang sok modern, sok gaul, sok maju dan sebagainya. 

"Dari pendekatan kultural, jiwa kota ini sudah dihilangkan. Sok modern, sok gaul dan sokmaju. Dari pendekatan sejarah, menghilangkan bukti-bukti sejarah dan sudah menabrak peraturan cagar budaya. Dari pendekatan tata kota dan estetika, sudah tidak jelas arah hendak ke mana biduk kemudi diarahkan. Ingatan kolektif telah diputuskan, nurani telah dicampakkan. Lihatlah kota-kota besar dunia, gedung lama tidak dibongkar bahkan dirawat. Gedung moden dibangun bukan menumpuk di kota tapi bergeser ke pinggir kota. Ekonomi berputar, khas kota tetap terawat. Selamat datang generasi baru, generasi tanpa identitas," sindirnya. (ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *