Khazanah

Pink Floyd, Band Paling Anti-Israel

Sumutdaily | Medan ~ Band-band legendaris biasanya tak hanya mengandalkan keindahan dalam bermusik. Lirik-liriknya pun membawa pesan moral, pesan perdamaian dan pembebasan bagi bangsa tertindas.

Lihat saja kekaguman Led Zeppelin terhadap Kashmir melalui lagu yang juga berjudul Kashmir. Juga kekhawatiran terjadinya eksodus besar-besaran akibat perang mencari Valhalla, tempat yang hanya dalam mitologi, melalui lagu Immigrant Song.

Atau ketakutan King Crimson terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang akhirnya digunakan untuk memusnahkan umat manusia dalam lagunya, Epitaph. 

Namun, jika ada grup musik legendaris yang paling anti Israel boleh jadi sebutan itu disematkan kepada Pink Floyd.

Dibentuk pada 1966, Pink Floyd beraliran progressive rock dengan lengkingan melodi gitarnya yang khas. Album Dark side of the Moon (1973) menjadi album mereka yang paling banyak memecahkan rekor.

Dalam catatan sejarah musik modern, Pink Floyd adalah salah satu kelompok musik rock paling sukses secara komersil. Band ini awalnya beranggotakan Bob Klose (gitar), Syd Barret (vokal, gitar), Richard Wright (keyboard), Roger Waters (bass), dan Nick Masson (drum). Setelah itu Bob Klose memutuskan keluar hingga band ini tinggal empat orang. Pada 1968 David Gilmour masuk menggantikan Barret. Mereka kini berada pada urutan ketujuh dalam jumlah album terjual di seluruh dunia. 

Selain membuat lagu-lagu bertema personal dan pengalaman hidup, mereka juga terkenal dengan lagu-lagu kritik sosial. Lagu Comfortably Numb menjadi salah satu lagu mereka yang paling terkenal.

Pemain bass sekaligus vokalis Roger Waters yang kini berusia 70 tahun baru-baru ini dianggap sosok paling kontroversial di Israel karena komentar-komentarnya yang kerap mengecam Negara Zionis itu.

Dalam wawancara dengan koran Israel Yedioth Ahronoth, dia menyebut pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah bentuk apartheid (diskriminasi ras seperti terjadi di Afrika Selatan).

Waters bilang menyalahkan Palestina dalam konflik Israel-Palestina adalah sama dengan mengatakan korban pemerkosaan bersalah karena dia diperkosa.

Dinding pemisah yang dibangun Israel di wilayah Palestina menurut dia seratus kali lebih kejam ketimbang tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.

"Saya ingin para penggemar memahami bahwa saya mengkritik kebijakan pemerintah Israel. Saya tidak mengkritik warga Israel," kata dia, seperti dilansir mondoweiss.net.

Waters mengatakan dia telah mengunjungi Israel, menempuh perjalanan darat melalui Tepi Barat dan mengunjungi Jenin. 

"Saya melihat banyak pos pemeriksaan, permukiman ilegal, dan pasukan pendudukan. Saya memutuskan untuk protes."

"Ketika satu ras atau kelompok etnis menguasai ras lain atau kelompok etnis lain dengan kekuatan maka itu adalah kejahatan apartheid," tegas dia. (sus/merdeka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *