Ragam

Ternyata MTQ Pertama Sekali Diadakan Di Asahan

Sumutdaily | Asahan ~ Perhelatan Mushabaqah Tilawatil Quran yang saat ini sudah mendunia ternyata pertama sekali diadakan di Asahan tepatnya di Desa Pondok Bungur pada tanggal 11 Rabiul Awal 1365 H atau pada tanggal 12 Februari 1946. Lahirnya MTQ ini diperoleh dari buku berjudul Peristiwa dan Sejarah Kelahiran MTQ Pertama yang disusun oleh Yayasan MTQ Pertama dan diterbitkan oleh FA Amka Medan.

Dalam buku tersebut didisain oleh Yayasan MTQ Pertama Indonesia yang ditandatangani oleh H. Nahar Alang Abdul Ghani Lc yang merupakan alumni Universitas Al Azhar Kairo.

Berdasarkan buku tersebut ditulis sejarah MTQ ini tidak terlepas dari sejarah hidup M. Ali Umar yang dilahirkan di Pondok Bungur pada tahun 1920. Dimana M. Ali Umar pertama sekali sekolah rendah di Pondok Bungur pada tahun 1926 dan itulah sekolah yang pertama sekali didirikan di Pondok Bungur yang letaknya di dekat rumah Penghulu Kampung Syahdan.

Setelah menyelesaikan sekolah rendah M. Ali Umar melanjutkan pendidikannya di SMP Taman Siswa Kisaran dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Falahiyah dan seterusnya melanjutkan pelajaran ke Madrasah Aliyah Tanjung Pura Langkat.

Pada tahun 1938 M. Ali Umar kembali ke desanya di Pondok Bungur dan mendirikan sekolah yang diberinama Madrasah Ikhwaniyah. Di sekolah tersebutlah M. Ali Umar mengadakan perlombaan membaca Al Quran dan perlombaan membaca khotbah. 
Perlombaan yang diadakan M. Ali Umar ini mendapatkan tantangan keras dari guru agama di daerah tersebut dengan alasan bahwa Alquran tidak boleh diperlombakan dan hukumnya haram karena tidak pernah dilakukan semasa zaman Nabi. Apalagi dengan memberikan hadiah kepada pemenangnya dan menurut guru agama hukumnya sama dengan judi. 
Reaksi tantangan dari para guru agama tersebut membuat perguruan tutup dikarenakan banyak wali murid yang menarik anaknya belajar dari sekolah yang didirikan M. Ali Umar.

Karena gagal menggelar lomba membaca Alqur'an, Ali Umar yang saat itu menjabat sebagai Pimpinan Persatuan Agama Islam (PAI) kembali mencetuskan perlombaan membaca Alqur'an yang dulu pernah mendapat tantangan dari para guru. Dalam suatu rapat pengurus PAI di Pondok Bungur, M. Ali Umar mengemukakan ideanya untuk mengadakan perlombaan membaca Alqur'an secara terbuka guna untuk mengikat lebih erat persatuan diantara umat Islam dan mempertahankan kemerdekaan dan sekaligus untuk menghilangka penderitaan bagi rakyat. Oleh karena apabila umat telah kembali kepada Alqur'an maka segala penderitaan akan hilang atau paling tidak sedikit berkurang. 

Dalam rapat tersebut gagasan yang dikemukakan M. Ali Umar disambut baik oleh semua pengurus dan terbentuklah sebuah panitia perlombaan membaca Alqur'an.

Setelah terbentuknya panitia perlombaan membaca Alqur'an maka dibuatlah pengumuman dan plakat yang ditulis tangan di seluruh desa-desa di Asahan bahwa akan diadakan perlombaan membaca Alqur'an dan kemudian dibuatlah surat undangan keseluruh desa-desa yang isinya akan diadakan perlombaan membaca Al Qur'an pada tanggal 11 Rabiul Awal atau 12 Februari 1946 bertempat di sekolah Pondok Bungur dimulai jam 9 pagi.

Setelah tersiarnya pengumuman ini kembali muncul raaksi dari guru agama yang menyatakan bahwa Al Qur'an tidak boleh diperlombakan dan hukumnya haram. Mendengar adanya reaksi M. Ali Umar menemui para guru agama dan mempertanyakan fatwa dari beberapa tokoh agama waktu itu terdiri dari Syech Haji M Tahir Abdullah seorang tokoh agama terkemuka, Syech Haji Ahmad Dahlan dan Syech Haji Ismail Abdul Wahab yang merupakan warga Tanjung Balai. 

Mendapat pertanyaan seperti itu ketiga tokoh agama menjawab Al Qur'an itu adalah kitab suci Agama Islam yang datang dari Allah SWT yang menjadi pedoman hidup umat Islam tidak boleh digunakan untuk suatu kepentingan duniawi secara ria Dan apabila diperlombakan dengan maksud untuk menggairahkan Umat Islam dalam membaca dan menghayati Sunnah dan apabila Al Qur'an diperlombakan atau digunakan sebagai alat untuk mencari sesuatu tujuan yang bersifa duniawi dan ria maka hukumnya haram.

Kemudian ketiga guru agama ini diundang M. Ali Umar untuk datang ke Pondok Bungur. Pada waktu pembukaan perlombaan tersebut dan ketiganya pun datang dan pada waktu pembukaan Syech Haji M. Tahir Abdullah bertindak sebagai Ketua Dewan Juri dan pada perlombaan tersebut Syech Haji M. Tahir Abdullah secara panjang lebar memberikan khotbah tentang masalah perlombaan membaca Al Qur'an dan Syech Haji Ahmad Dahlan mengurai masalah hukum judi perlombaan dan pengertiannya menurut hukum Islam. 
Dan dengan izin Allah pelaksanaan perlombaan membaca Al Qur'an ini terlaksana dengan sukses dan kemudian dilaksanakan pula di Tanjung Balai dan di tempat lain hingga sekarang perlombaan membaca Al Qur'an yang digagas M. Ali Umar sudah diselenggarakan di tingkat Nasional.

(Dikutip Dari Buku Berjudul Peristiwa dan Sejarah Kelahiran MTQ Pertama (Mushabaqah Tilawatil Qur'an yang disusun oleh Yayasan MTQ Pertama Indonesia diterbitkan FA. AMKA Medan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *