Ragam

Melalui TMMD Ke-98, Kodim 0203/Lkt Ciptakan Semangat Gotong Royong

Sumutdaily | Langkat ~ Mekanisme program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) diawali dan
disusun dengan sistem “Bottom Up Planning System”. Berawal dari musyawarah atau rembug desa dilanjutkan rapat di tingkat kecamatan dan kemudian dibicarakan di tingkat Kabupaten atau Kota. 

Proses itu membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya penentuan sasaran TMMD. Pertimbangan paling utama adalah kebutuhan mendesak masyarakat. Sehingga ketika TMMD selesai dilaksanakan, masyarakat bisa merasakan manfaat langsung. Di sisi lain, selama pengerjaan TMMD selalu melibatkan unsur TNI, Pemerintah Daerah, komponen masyarakat dan lembaga lain, semisal OKP.

Tak berlebihan jika disebutkan program TMMD sangat erat kaitannya untuk menumbuhkan budaya dan semangat gotong royong serta partisipasi aktif masyarakat dalam membangun daerahnya sendiri menuju kehidupan yang lebih maju, sejahtera dan mandiri.

Terlebih semangat kehidupan bergotong royong merupakan ciri khas masyarakat kita yang mulai terkikis oleh arus globalisasi. Tidak menutup kemungkinan seiring waktu berjalan, semangat gotong royong pun akan punah.

Melalui program TMMD yang memiliki karakteristik seperti ini, tentu akan menyemai semangat gotong royong di tengah-tengah benturan masyarakat di berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya di perkotaan, namun juga sudah melanda kehidupan di pedesaan yang sudah mulai mengagung-agungkan semangat individualistik.

Sebagian besar sasaran proyek TMMD yang tersebar di pedesaan terpencil dan tertinggal, tidak akan mengurangi makna filosofi yang disandangnya yaitu kemanunggalan TNI-Rakyat. 

Kemanunggalan ini harus terus dijaga. Bagaimanapun roh kelahiran TNI tidak lepas dari rakyat. Lahir dari rakyat dan dibesarkan oleh rakyat. Artinya apa yang dilakukan TNI harus berkiblat kepada kepentingan rakyat semata. Bukan untuk kepentingan kelompok ataupun golongan tertentu. 

Sudah jelas apa yang menjadi salah satu visi dan misi TNI dalam melakukan tugas pokoknya harus mampu membangun jiwa untuk dicintai dan mencintai rakyatnya.

TMMD ke-98 Kodim 0203/Langkat di Desa Namo Teras dan Kutambaru, Kecamatan Kutambaru, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi contoh nyata bagaimana semangat gotong royong terbangun. Semangat itu timbul sebagai implementasi dari kebutuhan masyarakat dan kewajiban TNI yang tertuang dalam UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI melalui Operasi Bakti TNI. Sinergitas antara semua unsur terasa sangat kental di TMMD ke-98 Kodim 0203/Langkat. Semangat gotong royong tercipta seketika. 

Komandan Kodim (Dandim) 0203/Langkat Letkol Arh Dedy Rahmanto, MSi (Han) mengakui, bagaimana semangat gotong royong terbangun melalui proyek TMMD. Semangat gotong royong membuat pengerjaan membuka dan membangun jalan terasa ringan. Sebelum melaksanakan proyek TMMD, kata Dandim, pihaknya melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Langkat. 

"Penjelasan dari Dinas PU Langkat, proyek pembukaan dan pembangunan jalan, minimal bisa diselesaikan dalam waktu 6 bulan dan membutuhkan dana yang teramat besar. Bahkan jika proyek itu dimasukkan dalam APBD dan dilelang, Dinas PU Langkat memperkirakan, tidak akan ada rekanan atau kontraktor yang bersedia mengerjakannya," jelas Dandim kepada Sumutdaily.com, beberapa waktu lalu.

Namun dengan semangat gotong royong, pengerjaan proyek itu selesai dikerjakan dalam waktu sekitar 50 hari. Semangat gotong royong telah menepis semua kendala yang dihadapi di lapangan. Satu-satunya kendala teknis adalah alam. Medan yang berbukit-bukit, berlumpur serta rawa menjadi tantangan besar dalam proyek ini. Apalagi cuaca yang tidak bersahabat, karena dikerjakan dalam musim penghujan.

Dukungan materil dari Pemkab Langkat dengan skema swakelola, tak dinafikan sangat membantu menyukseskan TMMD Kodim 0203/Langkat. 

Barang-barang materil yang sudah tersedia di gudang posko, awalnya sulit untuk disalurkan karena kendala hujan. "Saat cuaca bagus, bersama masyarakat seluruh material digotong bersama-sama masyarakat. Kami juga dapat bantuan pengangkutan dari masyarakat berupa mobil double gardan untuk mengangkut material," kata Dandim.

Dukungan dari masyarakat itu direalisasikan dengan mengatur masyarakat bersama-sama Satgas TMMD dan Kepala Desa. Masyarakat secara bergiliran ikut mengerjakan proyek.

Setiap target sasaran, dari 20 sasaran TMMD ke-98 Kodim 0203/Langkat, dikerjakan oleh 5 sampai 7 masyarakat. Pun demikian dengan prajurit TNI. Sehingga setiap sasaran dikerjakan oleh 10 sampai 15 orang.

"Hanya pada hari-hari tertentu kita mengerahkan masyarakat dan perajurit secara besar-besaran untuk satu sasaran," tambah Dandim.

Hasilnya, proyek yang seharusnya dikerjakan minimal dalam waktu 6 bulan, tuntas dilaksanakan hanya dalam tempo 50 hari. Keberhasilan itu menjadi contoh nyata dari filosifi TMMD, kemanunggalan TNI dan rakyat. Kemanunggalan yang sekaligus mencerminkan semangat gotong royong.

"Saya sangat terharu, karena di zaman saya sebagai Dandim, TMMD di Langkat bisa terlaksana dengan sukses. Ini semua berkat kerjasama, kemanunggalan dan semangat gotong royong antara TNI dan rakyat. Semangat ini yang harus terus kita pelihara. TMMD hanya membuka dan mengingatkan kita akan pentingnya semangat gotong royong. Ke depan, semangat ini harus terus kita pelihara," kata Dandim. (susilo/Sintel Lkt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *