Ekonomi

PLTS Terapung Danau Toba Beroperasi Maret 2018

Sumutdaily | Medan – Gubernur Sumatera Utara H T Erry Nuradi menyatakan dukungannya atas rencana Korea Environmental Industy dan Technology Instute (KEITI) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di perairan Danau Toba.

“Kita menyambut baik tindak lanjut rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Danau Toba. Ini sangat baik sekali karena dapat menambah pasokan listrik Sumut yang ramah lingkungan,” kata Gubernur Sumut, Rabu (7/2/2016).

Sebagai tindaklanjut kunjungan sebelumnya, KEITI yang menggandeng perusahaan LS IS (salah satu anak perusahaan LG) melakukan Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) pembangunan PLTS Terapung di Danau Toba pada Desember ini. Rencananya hasil FS tersebut akan diserahkan ke pihak-pihak terkait termasuk Pemprov Sumut pada 15 Januari 2017.

Gubsu mengatakan pembangunan PLTS terapung di Danau Toba memiliki nilai penting mengingat danau kebanggaan Sumut ini menjadi pusat perhatian nasional setelah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis pengembangan Pariwisata Nasional. “Ini sangat baik sekali. Terimakasih kepada KEITI yang sudah menguatkan kerjasama,” katanya.

Untuk itu, Gubsu menyatakan dukungan Pemprov Sumut untuk realisasi pembangunan PLTS terapung di perairan Danau Toba. Dukungan itu termasuk di antaranya kemudahan pengurusan perizinan yang dibutuhkan.

Senior Advisor KEITI Kyung Nam Shin mengatakan pihaknya yakin pembangunan PLTS terapung di Danau Toba akan mendatangkan banyak manfaat. “Proyek ini akan memberi banyak manfaat bagi banyak orang, dan tidak sulit untuk pembiayaannya. Untuk implementasi proyek, kami butuh dukungan Gubernur, terkait perizinan dan AMDAL,” kata Kyung.

Dijelaskan Kyung Nam Shin, Direktur PLN menyarankan pihaknya untuk menyerahkan hasil FS Pemprovsu. Diawali dengan 10 MW, dalam jangka seminggu akan tambah kapasitas. “Kami akan menyerahkan FS pada 15 jan 2017, dan mengharapkan feedback dari PLN pada Februaridan rencananya MOU dengan PLN dilaksanakan pada bulan Februari tentang harga pembelian,” jelas Nam Shin.

Diharapkan segalanya berjalan lancar, konstruksi dimulai pada September 2017 hingga Februari 2018. Pada awal Maret 2018 PLTS terapung dengan kapasitas 10 MW sudah beroperasi secara komersil.

Dia mengatakan pihaknya didukung pendanaan dari bank Korea dengan bunga yang sangat rendah. “Untuk poyek awal kami menyiapkan anggaran senilai 200 juta USD dan bisa dikembangkan untuk selanjutnya. KEITI merupakan lembaga di bawah kementerian lingkungan hidup Korea yang mengidentifikasi project-project di bidang perubahan iklim/climate chance. (Sugandhi Siagian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *