Kesehatan

Terserang Kanker Tulang, Cita-Cita Bocah Ini Jadi Tentara Tinggal Angan

Sumutdaily | Asahan

Dian Sanjaya sudah lama memendam cita-cita menjadi tentara. Namun cita-cita bocah 11 tahun itu terancam tak bisa terwujud. Kanker tulang yang menderanya, membuat Dian kini hanya bisa berbaring telungkup di rumahnya.

Jangankan untuk bermain sepakbola kegemarannya bersama anak-anak seusianya, untuk berangkat ke sekolah saja kini dia tak mampu.

Kini dunia bocah yang akrab di sapa Jaya itu, hanya sebatas kamar tidur di rumah orangtuanya di Desa Sei Kamah I, Dusun III, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Rabu (26/10/2016) pagi, sekira pukul 09.00 WIB, Jaya dikunjungi Camat Kecamatan Sei Dadap Ady Putra Pasaribu dan Kepala Desa Sei Kamah 1 Syamsul Bahri.

Saat dijenguk, Jaya langsung meminta ibunya untuk menutup benjolan sebesar bola kaki di tangan kirinya. Anak ketiga dari lima bersaudara putra pasangan suami istri Slamet (45) dan Salawati (43) itu malu dengan penyakit yang dideritanya.

Sang ibu justru melihat secercah harapan, begitu tahu rumahnya dikunjungi pimpinan kecamatan dan kelurahan. “Mau diobati anak saya pak,” katanya haru.

Dengan harapan besar, Salawati pun menceritakan kondisi putranya. Mereka sudah membawa lelah membawa anaknya berobat ke puskesmas dan rumah sakit. Namun karena terkendala biaya, kini Jaya hanya bisa telungkup di pembaringan dengan alas kasur seadanya.

Paling hanya petugas Puskesmas yang datang secara berkala untuk membersihkan luka di tangan kiri Jaya.

Camat Sei Dadap, Adi Putra Parlaungan Pasaribu berjanji akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi bagi kesembuhan Jaya. “Ini warga kita. Saya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, terutama Dinas Kesehatan untuk mencari solusi bagi pengobatan penyakit Jaya. Saya juga berharap ada warga yang bisa membantu meringankan penyakit Jaya,” kata Camat.

Aldi, salah seorang petugas puskesmas desa setempat yang secara kebetulan datang membersihkan luka dan mengobati mengaku, tidak dapat berbuat banyak. Dia hanya bisa memberikan pengobatan pencegahan agar kankernya tidak menjalar.

“Yang saya ketahui ini adalah osteo sarcoma atau kanker tulang pada anak-anak. Biasanya penyakit ini disebabkan benturan saat jatuh dan terjadi pada anak usia di bawah 17 tahun. Osteo sarcoma menyerang pembuluh darah yang lemah hingga menimbulkan pembengkakan yang terus membesar,” ujarnya.
 
Saat lukanya dibersihkan, Jaya sesekali meronta kesakitan.

Kepada wartawan, Jaya mengaku, sudah sebulan tidak sekolah. Bocah itu hanya bisa berbaring dengan posisi telungkup.

“Masih mau sekolah,” tanya salah seorang warga.

“Mau pak, biar bisa jadi tentara,” katanya sambil meneteskan air mata.

Harapan Jaya untuk menjadi tentara mungkin hanya tinggal angan. Sekolah sebagai jalan yang harus dilalui Jaya untuk menggapai cita-citanya, tidak lagi bisa dilakukan.

Setiap hari dia hanya bisa menatap teman-temannya yang pergi dan pulang sekolah yang jaraknya hanya sekitar 20 meter dari rumah orangtuanya. (azhar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *