Ragam

Brandon Toporov Merasa Nyaman Setelah Beragama Islam

Sumutdaily | Jakarta ~  Brandon Toporov atau kini dikenal sebagai Brandon Yusuf Toporov, adalah seorang penulis Amerika. Toporov dikenal sebagai penulis berbagai panduan agama-agama dunia. Berbagai buku rohani agama Kristen Katolik telah ia tulis, hingga tradisi dan lagu-lagu rohani. 

Termasuk bukunya kini ‘Paduan Lengkap Mengenal Alqur’an untuk para Idiot dan Agama-agama Dunia’. Kini ia merupakan seorang Muslim, setelah bersyahadat pada pada 20 Maret 2003 lalu.

Toporov bercerita tentang perjalanan spiritual dirinya. Ia memulai dengan merekonstruksi pertanyaan mendasar dalam Perjanjian Baru, yakni tradisi lisan yang otentik dari perkataan Yesus tentang rahmat dan berkah Allah kepadanya.

Pertanyaan mendasar ini, kata dia, telah lama menimbulkan perdebatan diantara sarjana teologi Kristen, namun bagi umat yang awam sangat sedikit yang mengikuti perdebatan lisan otentik Yesus ini.

“Saya percaya ayat-ayat tersebut cenderung mengkonfirmasi penggambaran Islam tentang Yesus, sebagai Nabi manusia dengan mandat Ilahi pada dasarnya bisa dibedakan dari Muhammad, semoga rahmat dan berkah Allah beserta mereka,” kata Toporov dilansir The Religion of Islam. 

Menurut Toporov perkataan langsung dari Yesus ini telah menjadi tantangan langsung para Teolog Kristen kontemporer, sebab tidak sedikit dari perkataan langsung Yesus ini yang menunjukkan gambaran Islam tentang Yesus atau Isa secara historis benar adanya. Faktanya, perkataan langsung Yesus dari Alkitab ini, menegaskan citra Islam bahwa Yesus sebagai Nabi dan manusia, telah banyak diketahui pemuka Kristen saat ini.

Ia mengaku tertarik membaca Injil sejak usia masih sangat muda, dan ia membacanya secara terus menerus, berulang-ulang, meskipun faktanya ia tidak hidup dalam keluarga Kristen yang taat. Toporov belajar untuk menjaga nilai keagamaan Kristen untuk dirinya sendiri.

Awal kegelisahan spiritualnya bermula ketika ia menginjak remaja. Saat itu ia rajin mengulang-ulang membaca Alkitab versi King James bagian injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Baginya saat itu, keempat bagian injil itu seperti magnet. Namun Tuparov mengakui satu waktu ia merasakan keanehan.

Keanehan itu ketika ia membaca Bab 22 dari Injil Lukas, ketika Yesus menyendiri dari para muridnya jelang penangkapan, tapi di dalam Bab Injil Lukas ini, menurutnya seperti ada kalimat doa yang hilang. Dan bagian lain menurutnya terdapat juga di Perjanjian Baru lainnya terkait prediksi kedatangan Mesias. Pertanyaan aneh dan kegelisahan dalam dirinya ini terjadi ketika jelang berusia 15 tahun. 

Toporov sampai pada kesimpulan dirinya, apakah seseorang telah memanipulasi isi Injil ini? Jika demikian, siapa? dan mengapa.? “Aku mengajukan pertanyaan untuk diriku dan berusaha menyimpulkan saat itu aku belum bagian dari komunitas iman Kristen yang kuat.”

Pada usia 18 tahun, Toporov memilih berkuliah di Gereja Katolik Roma.  Di sinilah ia bertanya kepada seorang pastur di kampusnya tentang beberapa materi Injil yang ia anggap ada keanehan. Tapi berkali-kali pastur merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut, dan mengubah topik pembicaraan. 

Pastur hanya menegaskan keempat Injil tersebut penting dan ia harus mempelajari semua, tidak membedahnya satu persatu. Karena ini adalah percakapan yang diceritakan, dan satu hal yang paling menentukan.  Rasa penasaran itu terus ia pendam hingga akhirnya ia menyelesaikan studi dan menikah serta dikaruniai tiga orang anak. 

Kebiasaan Toporov membaca dan mengulang-ulang menelaah Alkitab tetap menjadi kebiasaannya. Ia tetap merasakan ada masalah intelektual yang sangat mendasar tentang bangunan teologi dalam Perjanjian Baru, terutama terkait Rasul Paulus. Faktanya Paulus tidak pernah membuat argumen teologi apapun yang benar-benar didasarkan dari perkataan Yesus. “Bagi saya ini adalah masalah yang besar,” ujar Toporov.

Untuk menghilangkan kegelisahaan hatinya itu, Toporov memilih menyibukkan dirinya dalam aktivitas berbeda, dari aliran Kristen Protestan, Congregational Church. Ia memimpin kelas Sekolah Minggu, mengajar jelas Injil untuk anak-anak. Namun di kelas dewasa, Toporov menantang para siswa dengan dialektika pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya itu.

Namun karena banyak pertentangan dari peserta dewasa terhadap pemikirannya, akhirnya berhenti dari kelas Sekolah Minggu tersebut. Toporov akhirnya terseret ke ritual mistik Kristen dan aliran spiritual Zen Budhis. Bahkan ia sempat menulis buku tentang praktek ritual tersebut. 

Di tengah kegelisahan memuncak ini, Toporov hanya berpegang sesuai sumber lisan apa yang Yesus katakan dalam Injil. Ia merasakan semakin  ia bergulat dengan pemikirannya, maka semakin sulit ia menerima doktrin Trinitas Yesus. “Dimana dalam Injil Yesus mengatakan kata ‘Trinitas’?,” “Jika Yesus adalah Tuhan, sebagai doktrin klaim Trinity, mengapa dia menyembah Tuhan?,” sambungnya.

Dalam Perjanjian Baru bahkan Yesus mengatakan “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tidak ada yang baik tapi satu, yaitu Allah.” (Markus 10:18). “Apakah Yesus lupa bahwa dia sendiri adalah Tuhan ketika dia mengatakan ini?,” tanyanya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi jalan bagi dirinya menemukan cahaya Islam.

(ROL / Buya Soraya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *